Rabu, 20 Juni 2012

Budaya Mandailing versi Bernama.com (Diterjemahkan oleh Juniato)

Sebelum membaca terjemahan topik ini, silahkan baca dulu versi English-nya...biar lebih afdol....

 

Dispute Over Mandailing Culture Unwarranted, Says Lecturer
By Ahmad Fuad Yahya

JAKARTA, June 19 (Bernama) -- An ethnomusicology lecturer has asked the Indonesian government and people not to dispute the decision of the Mandailing community in Malaysia to declare the Tor-tor dance and Gordang Sambilan (nine great drumbeats) as their cultural heritage.

Rizaldi Siagian said the people of Mandailing descent, who have become part of the Malaysian community, were entitled to maintain their culture.

He said as culture was part of a community's heritage, not that of a country, it should not be turned into a national problem.

As culture is owned by a community, it transcends boundaries, he said, adding that if a Javanese community in London was entitled to maintain their ancestral culture in their adopted homeland.

"Culture should not be misconstrued. It should not be blown out of proportion as it is not at issue at all," Rizaldi was quoted by ANTARA news agency as saying.

Information, Communications and Culture Minister Datuk Seri Dr Rais Yatim had said the Mandailing's Tor-tor dance and the Gordang Sambilan would be gazetted as national heritage under Section 67 of the National Heritage Act 2005 amid brickbat from Indonesian media.

Malaysia had clarified to the Indonesian Embassy in Kuala Lumpur that the registration was not meant to imply that the culture belonged to Malaysia, but would rather expound that the culture originated from Mandailing, North Sumatra.

The people of Mandailing descent settled down in Malaysia since 200 years ago, even before the formation of Indonesia and Malaysia.

-- BERNAMA 
(sumber: http://bernama.com/bernama/v6/newsindex.php?id=674191 Dicopy 20 Juni 2012 Pukul 19.20 pm.)


 Maaf...saya coba terjemahkan dulu ya....biar dapat inti permasalahannya...

(semoga tidak salah terjemahkan...)


Sengketa Budaya Mandailing yang Tidak terjamin, Ungkap seorang Dosen

Oleh Ahmad Fuad Yahya

JAKARTA, 19 Juni ( Bernama ) - Seorang dosen etnomusikologi telah meminta pemerintah Indonesia dan masyarakat untuk tidak membantah keputusan masyarakat Mandailing di Malaysia untuk menyatakan Tor- tor dan tari Gordang Sembilan (sembilan drumbeats besar) sebagai warisan budaya mereka.

Rizaldi Siagian mengatakan orang-orang keturunan Mandailing, yang telah menjadi bagian dari komunitas Malaysia, berhak untuk mempertahankan budaya mereka.

Dia mengatakan sebagai budaya adalah bagian dari warisan sebuah masyarakat, bukan dari negara, itu tidak boleh berubah menjadi masalah nasional.

Sebagai budaya dimiliki oleh masyarakat, itu melampaui batas-batas, kata dia, menambahkan bahwa jika sebuah komunitas Jawa di London berhak untuk mempertahankan budaya nenek moyang mereka di tanah air mereka diadopsi.

"Budaya jangan disalahartikan. Seharusnya tidak meledak di luar proporsi karena ini bukan masalah sama sekali," Rizaldi dikutip oleh kantor berita ANTARA mengatakan.

Informasi, Komunikasi dan Budaya Menteri Datuk Seri Dr Rais Yatim mengatakan Tor- tor tarian Mandailing dan para Sembilan Gordang akan ditetapkan sebagai warisan nasional berdasarkan Bagian 67 dari National Heritage Act 2005.

Malaysia telah mengklarifikasi ke Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur bahwa pendaftaran tidak dimaksudkan untuk menyiratkan bahwa budaya itu milik Malaysia, tapi lebih suka menjelaskan bahwa budaya berasal dari Mandailing, Sumatera Utara.

Orang-orang keturunan Mandailing menetap di Malaysia sejak 200 tahun yang lalu, bahkan sebelum pembentukan Indonesia dan Malaysia.

- Bernama

(translated by Juniato Sidauruk. 20 Juni 2012 19.37 pm. Depok, Indonesia)


Opini saya:
Begitulah sebenarnya isi / muatan terkait tor-tor dan gondang sembilan.

Saya melihat ini suatu bentuk keprihatinan dan teguran keras bagi pemerintah Indonesia khususnya bidang kebudayaan.

Di sisi lain, saya setuju bahwa budaya lintas batas, dan sedianya tidak ada secara tersurat dalam berita BERNAMA.com tersebut yang menyatakan bahwa itu milik malaysia.

Pertanyaan yang kemudian menggelitik adalah, apakah orang2 Indonesia (khususnya Batak Mandailing) yang sudah katanya 200 tahun di Malaysia...bukan orang Batak pula???

Itu karena mereka masih cinta dengan budayanya...artinya..walau ragaku jauh...kau selalu dihati....gitu...

Ya...karena keadaan dan apapun itu mungkin mereka tinggal di Malaysia, namun nyatanya mereka merindukan Tor-tor dan Gondang Sembilan tercatat dalam warisan budaya dunia....

Kalo memang kita tidak mau kehilangan budaya asli kita, monggo....perhatikan dan hidupkan budaya2 bangsa ini....


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar