Kamis, 23 Desember 2010

SEJARAH SEBAGAI KAJIAN BUDAYA

SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER
TEORI KEBUDAYAAN 2010

Soal no. 5

SEJARAH SEBAGAI KAJIAN BUDAYA
(Soal dari Prof. Dr. Djoko Marihandono)






oleh:

Juniato Sidauruk
0906655282



PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM LINGUISTIK
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
UNIVERSITAS INDONESIA
Desember 2010
5. Sejarah sebagai Kajian Budaya (Soal dari Prof. Dr. Djoko Marihandono)
Pertanyaan: Mengapa penting memahami pendekatan Les Annales dalam menganalisis kajian budaya, khususnya dalam bidang sejarah dan bagaimana perkembangan selanjutnya khususnya dalam menganalisis kebenaran sejarah? Jelaskan pendapat Saudara!

Dalam bukunya The Nature of History, Arthur Marwick (1989) seorang Sejarawan Inggris melakukan kajian menyeluruh tentang perkembangan ilmu sejarah. Ketika memaparkan pendekatan yang dilakukan para sejarawan abad XX, ia menyebutkan Perancis sebagai tempat terjadinya perkembangan yang sangat signifikan dalam melakukan pendekatan yang yang baru dan sangat luas.
Hartojo (2003: 51-63) menjelaskan dalam tulisannya Strukturalisme Dalam Perkembangan Ilmu Sejarah bahwa Les Annales lahir pada tahun 1929 sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap mazhab yang sudah ada sebelumnya yaitu mazhab methodique.
Ada tiga tokoh perintis mazhab Les Annales, yakni: Lucien Febvre, Marc Bloch (Sebelum PD II), dan Fernand Braudel (Setelah PD II). Untuk menjelaskan mazhab Les Annales, akan dibahas terlebih dahulu mazhab Méthodique yang ditolak oleh para pendiri Les Annales (Burke, 1990).
G. Monod, E. Lavisse, CH. Victor Langlois, dan CH. Seignobos merupakan tokoh kenamaan dibalik mazhab methodique (Burke, 1990). Para ahli itu adalah penganut paradigma Ranke yang mendefinisikan tujuan sejarah hanyalah untuk menunjukkan masa lalu sebagaimana adanya. Sejarah hanya dilihat dari apa yang tertulis di dalam arsip. Aliran ini juga disebut “positivistic” karena mendasari historiografi dengan fakta-fakta yang tercantum dalam dokumen. Karena kondisi ini, sejarah yang berkembang pada masa itu adalah sejarah negara, perjanjian, pertempuran, dan sejarah orang-orang besar lengkap dengan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi karena perbuatan mereka.
Konsep pendekatan Les Annales dianggap penting dalam menganalisis kajian budaya, khususnya sejarah. Pentingnya pemahaman itu didasarkan pada ide, minat, dan gebrakan yang mereka lakukan terhadap pendekatan sejarah tampak lebih relevan dibanding dengan pendekatan sebelumnya, mereka tidak hanya mengacu pada arsip belaka. Relevansi pendekatan sejarah yang mereka terapkan dapat diklasifikasi atas tiga hal, yakni:
1. Les Annales, mazhab tandingan terhadap sejarawan mazhab méthodique atau kelompok positivisme. Pertentangannya berkutat pada historiografi, arsiparis yang menjadi keagungan Methodique. Oleh kaum Les Annales, dokumen dianggap tidak lagi sebatas apa yang tertulis pada kertas atau perkamen, tetapi lebih jauh harus menelusuri apa yang terkandung di balik yang tertulis: antara lain motivasi apa yang mendorong dan peristiwa apa yang terjadi sehingga terlahir suatu dokumen itu.
Dalam Combats pour l’histoire seperti dikutip oleh Antoine Prost bahwa sejarah tidak cukup hanya ditulis berdasarkan dokumen arsip saja. Sejarawan harus dapat membuat “bicara” sumber “bisu”. Ia juga menghendaki agar sejarah membuka diri terhadap ilmu lain, menggunakannya sebagai ilmu bantu dalam penelitian dan penulisan sejarah.
Artinya dengan lahirnya Les Annales, pintu ilmu pengetahuan untuk menggali sejarah lebih terperinci dapat diamati dari berbagai faktor untuk menemukan jawaban mengapa suatu peristiwa sejarah terjadi, apa penyebabnya dan akibatnya atau andilnya bagi kehidupan manusia.
2. Wacana politik yang ada dalam lingkup orang-orang besar kala itu tidak lagi sepenuhnya menjadi pusat perhatian tetapi sudah merambah ke seluruh aspek kehidupan manusia dalam masyarakat yang pluralis. Persentuhan Les Annales dengan realita dalam masyarakat masuk hingga ke dalam sistem ekonomi, struktur dan konjungtur, mentalitas, sejarah total, dan sejarah jangka panjang.
3. Oleh persentuhan tersebut, sejarah orang-orang kecil yang konon terpinggirkan sekarang dianggap memiliki nilai sejarah. Kenyataan bahwa struktur dalam suatu masyarakat dibentuk tidak hanya oleh penguasa dan orang-orang berpengaruh lainnya, tetapi juga oleh keberadaan masyarakat biasa.
Para sejarawan baru memfokuskan perhatian mereka kepada les peuples sans histoire orang kecil yang tidak punya sejarah. Mahzab ini mengembangkan sejarah sosial yang tak kenal pagar pembatas: ekonomi, struktur dan konjungtur, mentalitas, sejarah total, sejarah berjangka panjang.
Apa yang dikemukakan Les Annales ini jelas lebih komprehensif untuk diaplikasikan dalam penelitian selanjutnya terutama dalam kerangka kajian kebudayaan masa kini. Sebagai contoh, apabila sebuah benda yang dianggap memiliki nilai sejarah ditemukan di suatu daerah, tidak cukup hanya mendeskripsikan keberadaan benda itu seperti yang dimetodekan kaum positivisme, tetapi harus dilihat selanjutnya, mengapa, dan untuk apa benda itu dibuat. Demikian juga, analisis terhadap suatu perilaku unik sesorang atau kelompok masyarakat.
Berdasarkan konsep Les Annales, perilaku suatu masyarakat dapat dikaji berdasarkan kesejarahan dan mentalite yang dibawanya sejak masa lalu. Tokoh Les Annales (Lucian Febvre) menghendaki sejarah yang lebih mendalam, integral atau global, sejarah yang mencakup kehidupan manusia yang disebutnya sebagai sejarah total. Mentalité, jaringan kepercayaan yang kompleks, semangat zaman menjadi ciri karyanya, Ia menekankan agar sejarah tidak hanya membatasi pada dokumen arsip saja. Ranah Mentalite ini memang merupakan culture core yang sangat sulit diubah bahkan sangat tidak mungkin berubah. Ini lebih dekat pada sebuah ideologi suatu masyarakat. Misalnya, yang menjadi ciri khas orang Batak, yaitu ulos (kain tenun yang menjadi ciri khas orang Batak).
Jadi saya sangat sepakat dengan apa yang telah dikemukakan Bloch yang menyatakan bahwa sejarah berguna untuk memahami manusia untuk bertindak secara rasional. Diperlukan adanya pemahaman bukan hanya pada surface structure namun lebih jauh ke dalam deep structure atau mentalite ataupun ideologi. Dengan mengetahui kesejarahan itu, dengan mudah kita dapat menyesuaikan atau mencari langkah untuk mendekati dan berinteraksi serta membantu langkah-langkah pemerintah untuk melakukan suatu pembangunan dalam kerangka kebudayaan sehingga apapun langkah-langkah atau berupa kebijakan yang dihasilkan tidak akan merugikan suatu kelompok masyarakat.
Dalam hal ini, penelusuran mentalité masyarakat atas dokumen yang ada bukan semata-mata pada yang tersurat, tetapi juga yang tersirat atas keberadaan dokumen itu. Ditegaskan pula bahwa dokumen bukan hanya kertas dan perkamen, melainkan juga mata uang. Dokumen dapat memberi informasi yang lebih banyak daripada yang sekedar tercantum. Perhatian inilah yang membuat pendekatan mazhab Annales mampu mengungkap sejarah dan kebudayaan lebih terperinci.
Ilmu pengetahuan berkembang hingga terkadang borderless (tanpa batas) ruang dan waktu. Memang pengaruh dari Les Annales sejauh ini memberi hasil positif, namun tidak berarti mazhab ini terlepas dari kritikan. Kritikan terhadap Les Annales datang dari pendukung Post-modernisme. Faktor globalisasi yang borderless tersebut menelorkan doktrin Post-modernisme yang melihat adanya relativitas budaya. Marihandono (2008) dalam materi perkuliahan menggarisbawahi bahwa McCullagh menunjukkan pengaruh Postmodernisme dalam tiga aspek ilmu sejarah, yaitu:
a) metode yang digunakan dalam sejarah.
b) pengaruh budaya pada ahli sejarah.
c) penggunaan bahasa oleh ahli sejarah.
Sejarah adalah sebuah ilmu yang mempelajari peristiwa lalu umat manusia dan tidak terjadi dalam waktu singkat dan besar kemungkinan berdampak bagi kehidupan sesudahnya,
…Kita tidak dapat memahami kehidupan masyarakat lain hanya dengan cara memetakan budaya mereka, meskipun kita tidak dapat memahami bahkan mencatat peristiwa-peristiwa dalam dunia mereka tanpa memahami "model internal dari realitas" mereka (Keesing, 1971: 22).

Inilah keunikan dan peran sejarah. Mazhab Les Annales membuka kemungkinan untuk mengkaji sejarah sebagai sebuah gejala dalam jangka waktu panjang. Dalam mazhab Les Annales sejarah juga dipandang secara total dengan menghubungkannya dengan bidang ilmu lain. Hal ini tentu saja sangat berguna untuk membuktikan kebenaran dari sebuah peristiwa. Contohnya yaitu hubungan antara ilmu sejarah dengan ilmu arkeologi sebagai bidang ilmu yang sangat membantu dalam mencari kebenaran sejarah.
Apa yang saya pahami dengan paparan diatas diantaranya dengan pergeseran dari mazhab Methodique ke Annales secara lambat laun pandangan sempit seputar analisis sejarah mulai terkikis. Dari lingkungan orang-orang besar ke sejarah orang pinggiran membuka cakrawala baru sejarah hingga pada lintas sektoral dalam kehidupan manusia. Peristiwa sejarah yang pada mulanya hanya dikaji hanya berdasarkan rangkaian peristiwa-peristwa itu sendiri tanpa melihat latar belakang dan akar sosial dari peristiwa-peristiwa itu sehingga kebenarannya masih sangat bisa diperdebatkan, kemudian mulai diteliti dan dipelajari secara lebih mendalam dan komprehensif. Jadi, dengan Les Annales, mengapa suatu peristiwa terjadi, apa yang melatarbelakanginya, dan bagaimana itu terjadi, siapa yang berperan di balik suatu peristiwa, hingga apa dampak dari sejarah itu untuk kehidupan manusia masa selanjutnya; diungkap secara tuntas.
Kajian lintas ilmu dimungkinkan setelah lahirnya Les Annales. Artinya, apapun yang diperoleh dari pengungkapan fakta sejarah tersebut sudah semakin akurat dan telah mempertimbangkan banyak faktor dan melihatnya dari berbagai sisi keilmuan. Kenyataan ini menghasilkan pembuktian kebenaran sejarah lebih komprehensif dan akurat. Inilah yang membuat pendekatan Les Annales penting untuk dipahami dalam menganalisis kajian budaya khususnya dalam bidang sejarah tetapi tentu harus mengaitkan pengungkapan tersebut secara interdisipliner keilmuan.

Daftar Acuan

Burke, Peter. 1990. The French Historical Revolution The Annales School, 1929-1989. Cambridge: Polity Press.
Hartodjo, Kadjat. 2003. “Strukturalisme dalam Perkembangan Ilmu Sejarah.” Dalam Perancis dan Kita: Strukturalisme, Sejarah, Politik, Film, dan Bahasa. Irzanti Sutanto dan Anggari Harapan (ed). Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Keesing, R.M, Keesing, F.M. 1971. New Perspectives in Cultural Antrophology. New York: Holt, Rinehart & Winston.
Marihandono, Djoko. 2008. Kritik Terhadap Les Annales. Bahan Kuliah Teori Kebudayaan Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar