Selasa, 13 Juli 2010

ALIRAN LINGUISTIK : HISTORIS

PRESENTASI

SEJARAH ALIRAN LINGUISTIK

Tugas Mata Kuliah Sintaksis
Pengajar: Prof. Dr. Harimurti Kridalaksana, dan Tim

Oleh :

Juniato Sidauruk
NPM 0906655282


Pascasarjana Ilmu Linguistik
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
UNIVERSITAS INDONESIA
APRIL 2010


SEJARAH ALIRAN LINGUISTIK

Studi linguistik telah mengalami 3 tahap perkembangan, yaitu:
• Spekulasi: pernyataan-pernyataan tentang bahasa tidak didasarkan pada data empiris melainkan pada dongeng/rekaan belaka.
• Klasifikasi dan Observasi: mengadakan pengamatan, penggolongan terhadap bahasa-bahasa yang diselidiki.
• Perumusan teori: pembuatan teori-teorinya.
Dalam sejarah perkembangannya linguistik dipenuhi dengan berbagai aliran paham, pendekatan, dan teknik penyelidikan yang sangat ruwet. Berikut ini akan dibicarakan sejarah, perkembangan, paham, dan beberapa aliran linguistik dari jaman purba sampai jaman mutakhir secara sangat singkat.

A. LINGUISTIK TRADISIONAL


Berikut ini akan dijelaskan bagaimana terbentuknya tata bahasa tradisional dari zaman per zaman, mulai zaman Yunani sampai masa menjelang munculnya linguistik modern di sekitar akhir abad ke-19.

1. Linguistik Zaman Yunani

Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan para linguis waktu itu adalah pertentangan antara fisis dan nomos, dan pertentangan antara analogi dan anomaly.
Para filsuf Yunani mempertanyakan, apakah bahasa itu bersifat alami (fisis) atau bersifat konvensi (nomos). Bersifat alami maksudnya bahasa itu mempunyai asal usul, sumber dalam prinsip – prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar manusia itu sendiri. Bahasa bersifat konvensi maksudnya, makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi atau kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah. Pertentangan analogi dan anomaly menyangkut masalah bahasa itu sesuatu yang teratur dan tidak teratur. Kaum analogi antara lain, Plato dan Aristoteles, berpendapar bahwa bahasa itu bersifat teratur, karena itulah orang dapat menyusun tata bahasa. Sebaliknya, kelompok anomaly berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur. Dari studi bahasa pada zaman Yunani ini kita mengenal nama beberapa kaum atau tokoh yang mempunyai peranan besar dalam studi bahasa ini.
a. Kaum Sophis
b. Plato (429 – 347 S.M.)
c. Aristoteles ( 384 – 322 S.M. )
d. Kaum Stoik
e. Kaum Alexandrian

2. Zaman Romawi
Studi bahasa pada zaman Romawi dapat dianggap kelanjutan dari zaman Yunani. Tokoh pada zaman Romawi yang terkenal, antara lain, Varro (116 – 27 S.M.) dengan karyanya De Lingua Latina dan Priscia dengan karyanya Institutiones Grammaticae.
a. Varro dan De Lingua Latina
Dalam buku De Lingua Latina masih juga memperdbatkan masalah analogi dan anomaly seperti pada zaman Stoik di Yunani. Buku ini dibagi dalam bidang-bidang etimologi dan morfologi.
a) Etimologi, adalah cabang Linguistik yang menyelidiki asal – usul kata beserta artinya.
b) Morfologi, adalah cabang linguistik yang mempelajari kata dan pembentukannya.
Mengenai deklinasi, yaitu perubahan bentuk kata, Varro membedakan adanya 2 macam deklinasi, yaitu deklinasi naturalis dan deklinasi voluntaris.
a) Deklinasi naturalis, adalah perubahan yang bersifa alamiah, sebab perubahan itu dengan sendirinya dan sudah berpola.
b) Deklinasi voluntaris, adalah perubahan yang terjadi secara morfologis, bersifat selektif dan manasuka.
b. Institutiones Grammaticae atau Tata Bahasa Priscia
Beberapa segi yang patut dibicarakan dalam buku ini antara lain a) Fonologi, b) Morfologi, dan c) Sintaksis.

3. Zaman Pertengahan
Studi bahasa pada zaman pertengahan mendapat perhatian penuh terutama oleh para filsuf skolastik. Yang patut dibicarakan dalam studi bahasa antara lain adalah peranan:
a) Kaum Modistae masih membicarakan pertentangan antara fisis dan nomos dan pertentangan antara analogi dan anomaly.
b) Tata Bahasa Spekulativa, merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa Latin ke dalam filsafat skolastik.
c) Petrus Hispanus, bukunya berjudul Summulae Logicales.

4. Zaman Renaisans

Dianggap sebagai pembukaan abad pemikiran abad modern. Ada 2 hal yang perlu dicatat :
(1) Selain menguasai bahasa Latin, sarjana – sarjana pada waktu itu juga menguasai bahasa Yunani, bahasa Ibrani dan bahasa Arab.
(2) Selain bahasa Yunani, Latin, Ibrani dan Arab, bahasa –bahasa Eropa lainnya juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan, penyusunan tata bahasa, dan malah juga perbandingan.

5. Menjelang Lahirnya Linguistik Modern

Ferdinand de Saussure dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern. Masa antara lahirnya Linguistik Modern dengan masa berakhirnya zaman Renaissan ada satu tonggak yang sangat penting dalam sejarah studi bahasa. Mengenai Linguistik tradisional di atas, maka scara singkat dapat dikatakan, bahwa :
a) Pada tata bahasa tradisional ini tidak dikenal adanya perbedaan antara bahasa ujaran dengan bahasa tulisan.
b) Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokan-patokan dari bahasa lain.
c) Kaidah-kaidah bahasa dibuat secara preskriptif, yakni benar atau salah.
d) Persoalan kebahasaan sering kali dideskripsikan dengan melibatkan logika.
e) Penemuan-penemuan atau kaidah-kaidah terdahulu cenderung untuk selalu dipertahankan.

B. LINGUISTIK STRUKTURALIS

1. Ferdinand de Saussure
Dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique Generale. Buku tersebut sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pandangan yang dimuat dalam buku tersebut mengenai konsep:
a) Telaah sinkronik dan diakronik.
b) La Langue dan La Parole.
c) Signifiant dan Signifie.
d) Hubungan Sintagmatik dan Paradigmatik.


2. Aliran Praha
Aliran Praha terbentuk pada tahun 1926 atas prakarsa salah seorang tokohnya, yaitu Vilem mathesius (1882-1945).Dalam bidang Fonologi aliran Praha inilah yang pertama-tama membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Aliran Praha ini juga memperkenalkan dan mengembangkan suatu istilah yang disebut morfonologi, bidang yang meneliti struktur fonologis morfem. Dalam bidang sintaksis, Vilem Mathesius mencoba menelaah kalimat melalui pendekatan fungsional. Menurut pendekatan ini kalimat dapat dilihat dari struktur formalnya dan juga dari stuktur informasinya yang terdapat dalam kalimat yang bersangkutan. Struktur informasi menyangkut unsure tema dan rema. Tema adalah apa yang dibicarakan, sedangkan rema adalah apa yang dikatakan mengenai tema. Tokoh-tokoh lainnya adalah Nicolai S. Trubetskoy, Roman Jakobson, dan Morris Halle. Pengaruh mereka sangat besar disekitar tahun tiga puluhan, terutama dalam bidang fonologi.
Dalam bidang fonologi aliran Praha inilah yang membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi itu sendiri, sedangkan fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem. Begitu juga dengan istilah fonem, yang dalam sejarahnya berasal dari bahasa Rusia fonema, lalu membedakan pngertian fonem dan fon (bunyi), dan selanjutnya diperkenalkan oleh sarjana Polandia lainnya yaitu Kruzewki; akan tetapi yang menggunakan dan memperkenalkan dalam analisis bahasa adalah para linguis aliran Praha ini, seperti tampak dalam buku Trubetskoy Grundzuge der Phonologie (terbit 1939).
Struktur bunyi dikelaskan dengan memakai kontras atau oposisi. Ukuran untuk menentukan apakah bunyi-bunyi ujaran itu beroposisi atau tidak adalah makna. Perbedaan bunyi yang tidak menimbulkan perbedaan makna adalah tidak distingtif. Artinya, bunyi-bunyi tersebut tidak fonemis. Sedangkan yang menimbulkan perbedaan makna adalah distingtif; Jadi, bunyi-bunyi ersebut bersifat fonemis. Dalam bahasa indonesia bunyi /l/ dan /r/ adalah dua buah fonem yang berbeda,sebab terdapat oposisi diantara keduanya seperti tampak pada pasangan kata lupa dan rupa. Tetapi dalam bahasa Jepang bunyi /i/ dan /r/ itu tidak distingtif, karena tidak beroposisi satu dengan lainnya. Keduanya hanyalah varian dalam fonem yang sama.
Dalam bidang fonologi aliran Praha ini juga memperkenalkan dan mengembamgkan sustu istilah yang disebut Morfonologi, bidang yang meneliti struktur fonologis morfem. Bidang ini meneliti perubahan-perubahan fonologi yang terjadi sebagai akibat hubungan morfem dangan morfem. Misalnya, ada contoh B kita lihat bahwa fonem/p/ dan /b/ tidak berkontras, tetapi bila kata /jawab/ atau /jawap/ diimbuhi sufiks-an, maka hasilnya adalah /jawaban/ bukan /jawapan/.
Dalam bidang sintaksis Vilem Mathesius mencoba menelaah kalimat melalui pendekatan fungsional. Menurut pendekatan ini kalimat dapat di lihat dari struktur formalnya, dan juga dari struktur informasinya yang terdapat dalam kalimat yang bersangkutan. Struktur formal menyangkut unsur-unsur gramatikal kalimat tersebut, yaitu subjek dan predikat gramatikalnya. Sedangkan struktur informasi menyangkut unsur tema dan rema. Yang dimaksud dengan Tema adalah apa yang di bicarakan, sedangkan Rema adalah apa yang dikatakan mengenai tema. Setiap kalimat mengandung unsur tema dan rema. Pada kalimat A. kakak adalah subjek gramatikal dan adik adalah objek gramatikal dan dalam kalimat B. Adik adalah subjak gramatikal dan kakak adalah objek gramatikal.
1. Kakak memanggil adik
2. Adik memanggil kakak
Namun, dalam beberapa hal subjek gramatikal tidak selalu berada didepan objek.
1. This Argument I can’t follow
Subjek gramatikal adalah I, sedangkan This Argument adalah objek gramatikal. Tetapi, menurut pandangan aliran Praha, This Argument adalah subjek psiologis atau tema; sedangkan i can’t follow adalah objek psikologis atau rema. Bagaimana tema dan rema pada kalimat D berikut?
1. I can’t follow this argument
Dalam kalimat tersebut subjek gramatikal dan tema menduduki tempat yang sama. Begitu juga dengan objek gramatikal atau rema. Demikianlah serba singkat pandangan aliran Praha ini mengenai fonologi dan sintaksis. Sumbangan aliran ini memang terutaa dalam bidang fonologi dan sintaksis, sedangkan dalam bidang morfologi tidak terlalu banyak.

3. Aliran Glosematik

Aliran Glosematik lahir di Denmark. Tokohnya, antara lain, Louis Hjemslef (1899-1965), yang meneruskan ajaran Ferdinand de Sausure. Menurut Hjemslev teori bahasa haruslah bersifat sembarang saja, artinya harus merupakan suatu sistem deduktif semata-mata. Teori itu harus dapat dipakai secara tersendiri untuk dapat memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang timbul dari premis-premisnya. Hjemslev menganggap bahasa itu mengandung dua segi, yaitu segi ekspresi dan segi isi.

4. Aliran Firthian
Nama John R. firth (1890-1960) guru besar pada Universitas London sangat terkenal karena teorinya mengenai fonologi prosodi. Fonologi Prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Ada tiga macam pokok prosodi:
a) Prosodi yang menyangkut gabungan fonem,
b) Prosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda,
c) Prosodiyang realisasi fonetinya melampaui satuan yang lebih besar daripada fonem – fonem suprasegmental.

Firth juga terkenal dengan pandangannya mengenai bahasa. Firth berpendapat bahwa bahasa harus memperhatikan komponen sosiologis.

5. Linguistik Sistemik
Nama aliran linguistik sistemik tidak dapat dilepaskan dari nama M.A.K. Halliday.
Pokok-pokok pandangan sistemik linguistik adalah
1. SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyrakatan bahasa.
2. SL memandang bahasa sebagai pelaksana
3. SL lebih mengutamakan pemerian cirri-ciri bahasa tertentu beserta variasi-variasi
4. SL mengenal adanyagradasi atau kontinum.
5. SL, menggambarkan tiga tataran utama bahasa
sebagai berikut:
SUBSTANSI FORMA SITUASI
Substansi fonik
Substansi grafis Fonologi
grafologi Leksis
gramatika konteks Tesis
Situasi
Langsung
Situasi luas

6. Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika
Aliran ini berkembang pesat di Amerika pada tahun 30-an dan 50-an. Faktor yang menyebabkan:
1. Pada masa itu linguis di Amerika menghadapi masalah yang sama, yaitu banyak sekali bahasa Indian yang belum diperikan.
2. Sikap Bloomfield yang menolak mentalistik sejalan dengan iklim fisafat yang berkembang pada masa itu di amerika, yaitu filsafat behaviorisme.
3. Diantara linguis-linguis itu ada hubungan yang baik.
Aliran strukturalis yang dikembangkan Bloomfield dengan para pengikutnya sering juga disebut aliran taksonomi, dan aliran Bloomfieldian atau post-Bloomfieldian. Karena bermula atau bersumber pada gagasan Bloomfield. Disebut aliran taksonomi karena aliran ini menganalisis dan mengklasifikasi unsur-unsur bahasa berdasarkan hubungan hirarkinya.

7. Aliran Tagmemik
Dipelopori oleh Kenneth L. Pike yang mewarisi pandangan Bloomfield. Menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem (susunan). Tagmem ini tidak dapat dinyatakan dengan fungsi-fungsi saja. Seperti subjek + predikat + objek dan tidak dapat dinyatakan dengan bentuk-bentuk saja, seperti frase benda + frase kerja + frase benda, melainkan harus diungkapkan kesamaan dan rentetan rumus seperti:
S : FN + P : FN + O : FN
Fungsi subjek diisi oleh frase nominal diikuti oleh fungsi predikat yang diisi oleh frase verbal dan diikuti pula oleh fungsi objek yang diisi oleh frase nominal.

Menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem. Yang dimaksud dengan Tagmem adalah korelasi antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertukarkan untuk mengisi slot tersebut. Satuan dasar sintaksis itu, yaitu tagmem, merupakan suatu system sel-empat-kisi, yang dapat digambarkan sebagai bagan berikut:
Fungsi Kategori
Peran Kohesi

C. LINGUISTIK TRANSFORMASIONAL DAN ALIRAN–ALIRAN SESUDAHNYA
Dunia ilmu, termasuk linguistik bukan merupakan kegiatan yang statis melainkan merupakan kegiatan yang dinamis, berkembang terus sesuai dengan filsafat ilmu itu sendiri yang selalu ingin mencari kebenaran yang hakiki. Kemudian orang pun merasa bahwa model struktural itu banyak kelemahannya, sehingga orang mencoba merevisi model struktural. Berikut model-modelnya:
1. Tata Bahasa Transformasi
Dalam buku Noam Chomsky yang berjudul Syntactic Structure pada tahun 1957, dan dalam buku Chomsky yang kedua yang berjudul Aspect of the Theory of Syntax pada tahun 1965 mengembangkan model tata bahasa yaitu transformational generative grammar, dalam bahasa Indonesia dsebut tata bahasa transformasi atau bahasa generatif. Tujuan penelitian bahasa adalah untuk menyusun tata bahasa dari bahasa tersebut. Bahasa dapat dianggap sebagai kumpulan kalimat yang terdiri dari deretan bunyi yang mempunyai makna maka haruslah dapat menggambarkan bunyi dan arti dalam bentuk kaidah – kaidah yang tepat dan jelas. Syarat untuk memenuhi teori dari bahasa dan tata bahasa yaitu :
1. Kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat – buat.
2. Tata bahasa tersebut terus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan atau istilah tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja dan semuanya ini harus sejajar dengan teori linguistik tertentu.
Konsep language dan parole dari de Saussure, Chomsky membedakan adanya kemampuan (competence) dan perbuatan berbahasa (performance). Jadi objeknya adalah kemampuan. Seorang peneliti bahasa harus mampu menggambarkan kemampuan si pemakai bahasa untuk mengerti kalimat yang tidak terbatas jumlahnya, yang sebagian besar, barangkali, belum pernah didengarnya atau dilihatnya. Kemampuan membuat kalimat – kalimat baru disebut aspek kreatif bahasa Dalam buku Tata Bahasa Transformasi lahur bersamaan dengan terbitnya buku Syntatic Structure tahun 1957. Buku ini sering disebut “Tata Bahasa Transformasi Klasik“. Kemudian disusul aspect of the theory of syntax dalam buku ini Chomsky menyempurnakan teorinya mengenai sintaksis dengan mengadakan beberapa perubahan yang prinsipil. Tahun 1965 dikenal dengan standar teori, kemudian tahun 1972 diberi nama Extended Standard Theory, tahun 1975 diberi nama Revised Extended Standard Theory. Terakhir buku ini direvisi dengan nama Government and Binding Theory.
Dari kesimpulan tersebut terdiri dari 3 komponen :
1. komponen sintetik
2. komponen semantik
3. komponen fologis

2. Semantik Generatif
Menurut semantic generatf, sudah seharusnya semantic dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu. Struktur semantic itu serupa dengan struktur logika. Struktur logika itu tergambar sebagai berikut:


Menurut teori semantic generatif, argument adalah segala sesuatu yang dibicarakan; sedangkan predikat itu semua yang menunjukan hubungan, perbuatan, sifat, keanggotaan, dan sebagainya. cukup hanya dengan kaidah transformasi saja. Menurut semantik generatif, sudah seharusnya semantik dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu.

3. Tata Bahasa Kasus
Tata bahasa kasus diperkenalkan oleh Charles J. Fillmore (1968). Fillmore membagi kalimat atas :
1. Modalitas, yang berupa unsur negasi, kala, aspek, dan adverbia.
2. Proposisi, yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus.

Yang dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina. Verba di sini sama dengan predikat, sedangkan nomina sama dengan argument dalam teori semantik generatif.

4. Tata Bahasa Relasional
Sama halnya dengan tata bahasa transformasi, tata bahasa relasional juga berusaha mencari kaidah kesemestaan bahasa. Tokohnya David M. Perlmutter dan Paul M. Postal. Tata bahasa relasional (TR) banyak menyerang tata bahasa transformasi (TT), karena menganggap teori-teori TT itu tidak dapat diterapkan pada bahasa-bahasa lain selain bahasa Inggris.

Menurut teori bahasa relasional, setiap struktur klausa terdiri dari jaringan relasional (relational network) yang melibatkan tiga macam wujud yaitu:
(a) Seperangkat simpai (nodes) yang menampilkan elemen-elemen di dalam suatu struktur;
(b) Seperangkat tanda relasional (relational sign) yang merupakan nama relasi gramatikal yang disandang oleh elemen-elemen itu dalam hubungannya dengan elemen lain;
(c) Seperangkat “coordinates” yang dipakai untuk menunjukkan pada tatara yang manakah elemen-elemen itu menyandang relasi gramatikal tertentu terhadap elemen yang lain.

D. TENTANG ALIRAN LINGUISTIK DI INDONESIA
Pada awalnya penelitian bahasa di Indonesia dilakukan dengan tujuan untuk kepentingan pemerintahan colonial. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 pemerintah colonial sangat memerlukan informasi mengenai bahasa-bahasa yang ada di bumi Indonesia untuk melancarkan jalannya pemerintahan disamping untuk kepentingan lain seperti penyebaran agama nasrani.

Konsep-konsep linguistik modern seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure sudah bergema sejak awal abad ke-20. Kemudain disusul oleh berbagai teori dan aliran seperti strukturalisme Bloomfield pada tahun 30-an dan teori generative transformasi pada tahun 50-an. Namun gema konsep linguistik modern itu baru tiba di Indonesia pada akhir sekali tahun 50-an sejak kepulangan sejumlah linguis Indonesia dari Amerika Serikat seperti Anton M. Moeliono dan T. W. Kamil. Kedua beliau inilah yang pertama-tama mengenalkan konsep fonem, morfem, frasa, dan klausa dalam pendidikan formal linguistik di Indonesia.

Perkembangan waktulah yang kemudian menyebabkan konsep-konsep linguistik modern dapat diterima, dan konsep-konsep linguistik tradisional mulai agak tersisih, setelah buku Keraf itu, sejumlah buku Ramlan, juga menyajikan analisis bahasa secara struktural, menyebabkan kedudukan linguistik modern dalam pendidikan formal menjadi semakin kuat, mesti konsep linguistik tradisional masih banyak yang memperhatikan.
Perkenalan dengan konsep-konsep linguistik ini menimbulkan pertentangan karena konsep-konsep linguitik tradisional yang sudah mendarah daging tidak begitu saja dapat diatasi. Perkembangan waktu jualah yang kemudian menyebabkan konsep-konsep linguistik modern dapat diterima. Pendidikan formal linguistik di fakultas sastra dan dilembaga-lembaga pendidikan guru sampai akhir tahun 50-an masih terpaku pada konsep-konsep tatabahasa tradisional yang sangat bersifat normative.

Sejalan dengan perkembangan dan makin semaraknya studi linguistik, yang tentu saja dibarengi dengan bermunculannya linguis-linguis Indonesia, baik yang tamatan luar negeri maupun dalam negeri, maka pada tanggal 15 November 1975, atas prakarsa sejumlah linguis senior, berdirilah organisasi kelinguistikan yang diberi nama Masyarakat Linguis Indonesia (MLI). Anggotanya adalah para linguis yang kebanyakan bertugas sebagai pengajar di perguruan tinggi negeri atau swasta dan di lembaga-lembaga penelitian kebahasaan. Tiga tahun sekali MLI mengadakan musyawarah nasional, yang acaranya selain membicarakan masalah organisasi juga mengadakan seminar mengenai linguistik. Selain acara seminar yang bersifat nasional yang diselenggarakan oleh pengurus pusat, banyak pula acara seminar yang diselenggarakan oleh pengurus komisariat di daerah. Majalah linguistik Indonesia dengan pengantar bahasa Inggris sering dikenal dengan nama NUSA yang dirintis oleh Prof. Dr. J.W.M. Verhaar SJ dan dieditor oleh sejumlah linguis Indonesia, antara lain Amran Halim, Poenjono Dardjowidjojo, Ignatius Soeharno, dan Soepomo Poejosoedarmo. Isi majalah tersebut antara 1975 sampai 1989 dapat dilihat dalam Kaswanti Purwa (1990).

Penyelidikan bahasa daerah dan bahasa Indonesia banyak pula dilakukan oleh orang luar negeri. Universitas Leiden di Negeri Belanda telah mempunyai sejarah panjang dalam penelitian bahasa-bahasa Nusantara, antara lain ada Uhlenbeck, Voorhove, Rolvink dan Grijins. Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa negara, maka bahasa Indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik dewasa ini, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pelbagai segi dan aspek bahasa telah dan masih menjadi kajian yang dilakukan oleh banyak pakar dengan menggunakan pelbagai teori dan pendekatan sebagai dasar analisis. Secara nasional bahasa Indonesia telah mempunyai buku tata bahasa baku dan sebuah kamus besar yang disusun oleh para pakar yang handal. Dalam kajian bahasa nasional Indonesia di Indonesia tercatat nama-nama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purwa, Dardjowidjojo, dan Soedaryanto, yang telah banyak menghasilkan tulisan mengenai berbagai segi dan aspek bahasa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar