Selasa, 13 Juli 2010

Kategori Fatis dan Aplikasi

JAWABAN UAS SINTAKSIS

Oleh

Juniato Sidauruk
NPM 0906655282

Pascasarjana Ilmu Linguistik
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK, MEI 2010


Dalam linguistik Indonesia ditemukan sebuah konsep yang kemudian diberi nama ”Kategori Fatis” atau ”Fatika”. Adakah gejala ini dalam bahasa yang Saudara kenal (misalnya Bahasa Inggris, Bahasa Arab, atau Bahasa Minangkabau). Jelaskanlah ciri-cirinya dan terangkan mengapa harus ada gejala semacam itu dalam bahasa itu.

Ada empat hal pokok dari isi pertanyaan di atas, yakni tentang fatis, kategori dan ciri-cirinya, alasan eksistensi fatis, dan gejalanya.

Manusia diakui keberadaannya sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Sebagai makhluk individu, setiap insan memiliki perbedaan dari yang lain dalam banyak hal. Sebagai makhluk sosial, seseorang perlu membangun relasi, bahkan juga berusaha mempertahankan hubungan satu sama lain lewat peristiwa komunikasi. Dalam berkomunikasi, setiap partisipan komunikasi menggunakan ujaran yang umumnya informal. Tentu penggunaan ujaran tertentu memiliki fungsi tertentu juga. Seperti yang dikemukakan oleh Malinowski bahwa ditinjau dari sudut fungsi bahasa, ada yang dikenal dengan phatic communion sama sekali tidak berfungsi menyampaikan maksud pembicara, melainkan mempunyai fungsi sosial.
Ada baiknya dipaparkan dulu tentang pengertian partikel fatis itu sendiri. Kridalaksana (1986: 111-117) dalam tulisan Sutami tentang Partikel Fatis dalam Bahasa Mandarin (Wacana Vol. 7. No. 1 April 2005: 86) mengemukakan definisi dan ciri kategori fatis. Kategori fatis adalah kategori yang bertugas memulai, mempertahankan, atau mengukuhkan pembicaraan antara pembicara dan kawan bicara. Kelas kata ini biasanya terdapat dalam konteks dialog atau wawancara bersambutan, yaitu kalimat-kalimat yang diucapkan oleh pembicara dan kawan bicara. Sebagian besar kategori fatis merupakan ciri ragam lisan. Karena ragam lisan pada umumnya merupakan ragam nonstandar, maka kebanyakan kategori fatis terdapat dalam kalimat nonstandar. Ada bentuk fatis yang terdapat di awal kalimat, di tengah kalimat, dan ada pula yang di akhir kalimat.
Kridalaksana merupakan pakar linguistik bahasa Indonesia yang telah mengangkat kategori fatis ini dan kemudian membuat kategori fatis berdasarkan wujud bentuk, distribusi, fungsi dan makna. Dari sudut posisinya, fatis dapat menduduki posisi awal kalimat, misalnya “Kok nangis sih?” di tengah kalimat, misalnya, “Dia kok yang lempar, bukan aku!", dan di akhir kalimat, misalnya, “Jangan dipukul dong!” (Kridalaksana, 1990: 111-112).
Ungkapan fatis merupakan kata gramatikal atau kata fungsional dengan ciri-ciri (a) tidak memiliki akar yang jelas, (b) tidak memiliki otonomi semantis, dan (c) merupakan kata fungsional (Cruse, 2000:88-89). Dari segi makna, ungkapan fatis mempunyai makna context sensitive atau terikat konteks atau peka konteks yang bersifat sintaksis (ditentukan oleh ciri struktural dalam suatu konstruksi) dan bersifat semantis (ditentukan oleh aspek semantis situasional sintaksisnya).
Sebagai makhluk sosial, setiap individu perlu menjalin kerja sama satu sama lain lewat komunikasi. Ketika peristiwa komunikasi ini terjadi, setiap individu memainkan peranannya. Bentuk dan fungsi komunikasi fatis antar partisipan dipengaruhi oleh faktor kuasa dan solidaritas. Faktor kuasa di sini dapat dianalogikan dengan hubungan vertikal – horisontal. Mengacu pada hubungan ini lalu partisipan akan berusaha menyampaikan ide atau informasi kepada kawan bicaranya. Penggunaan kategori fatis memainkan peranan penting apakah fatis tersebut digunakan untuk mengungkapkan kesantunan (memertahankan jarak sosial), untuk mengungkapkan kesantunan dan persahabatan (memerpendek jarak sosial), dan untuk mengungkapkan persahabatan (menghilangkan jarak sosial) kepada petutur yang berbeda-beda dalam hal kuasa dan solidaritas. Komunikasi fatis juga merupakan realitas sosiokultural di dalam masyarakat penutur jati bahasa tertentu yang relatif berbeda dari masyarakat bahasa lainnya dan merupakan bagian dari kompetensi komunikatif yang ada di dalam diri penutur jati satu bahasa. Di sinilah letak strategis kategori fatis dalam bahasa.
Pada umumnya setiap bahasa memiliki kategori fatis. Dalam bahasa Inggris terdapat dua belas (12) fungsi penggunaan unsur fatis dalam tuturan. Fungsi-fungsi dimaksud adalah yaitu (1) untuk memecahkan kesenyapan, (2) untuk memulai percakapan, (3) untuk melakukan basa-basi, (4) untuk melakukan gosip, (5) untuk menjaga agar percakapan tetap berlangsung, (6) untuk mengungkapkan solidaritas, (7) untuk menciptakan harmoni, (8) untuk menciptakan perasaan nyaman, (9) untuk mengungkapkan empati, (10) untuk mengungkapkan persahabatan, (11) untuk mengungkapkan penghormatan, dan (12) untuk mengungkapkan kesantunan. Misalnya tuturan ‘Hello’, ‘Nice weather isn’t it?’
Dalam bahasa Indonesia dikenal banyak kategori fatis seperti jenis ah, ayo, deh, dong, ding, halo, kan, kek, kok, -lah, lho, nah, sih, ya, yah. Makna-makna yang dikandung ungkapan fatis yaitu kata ah menekankan penolakan, kata ayo menekankan ajakan, kata deh memberikan garansi dan penekanan pada kalimat sebelumnya, pemaksaan dengan membujuk, kata dong (1) menghaluskan perintah, (2) menekankan kesalahan kawan bicara, (3) meyakinkan pernyataan sebelumnya, kata ding menekankan pengakuan kesalahan pembicara, kata halo memulai atau menyapa kawan bicara, makna kata kan menekankan pembuktian atau bantahan, makna kata kek menekankan perintah, makna kata kok menekankan alasan dan pengingkaran, dan sebagai pengganti kata tanya kenapa, makna kata lho menekankan kekagetan, makna kata nah mengalihkan perhatian, makna kata sih sebagai kata ganti memang atau sebenarnya, dan menekankan alasan, makna kata ya mengukuhkan dan membenarkan apa yang ditanyakan kawan bicara, dan meminta persetujuan atau pendapat kawan bicara, makna kata yah mengungkapkan keragu-raguan atau ketidakpastian terhadap apa yang diungkapkan atau yang tersebut dalam kalimat sebelumnya atau atas isi konstituen ujaran yang mendahuluinya, dan meyakinkan kawan bicara, dan makna partikel -lah penguat sebutan dalam kalimat. Ungkapan fatis yang berdistribusi pada awal ujaran yaitu ah, ayo, halo, kok, kan, partikel -lah, lho, nah, ya, yah, untuk distribusi pada tengah yaitu ding, kok, kan, partikel -lah, sih, yah, sedangkan untuk distribusi pada akhir ujaran yaitu kek, kok, kan, partikel -lah, ya, dan yah. Dari segi bentuk kata, kategori fatis dominan memiliki satu suku kata, kecuali untuk kata ayo dan halo terdiri dari dua suku kata.
Dalam bahasa Mandarin seperti yang ditulis oleh Sutami tentang Partikel Fatis dalam Bahasa Mandarin (Wacana Vol. 7. No. 1 April 2005: 91) bahwa terdapat kalimat yang mengandung partikel. Misalnya partikel a dengan varian wa, ya, na seperti dalam kalimat ‘Kaoshishi, bie jinzhang ‘a’ (‘Pada waktu ujian jangan gugup ya’ bertujuan untuk memperhalus perintah); partikel ne seperti dalam kalimat ‘Zhe shi zenme hui shine?’ (‘Ini bagaimana sih terjadinya?’ berfungsi untuk menegaskan atau meminta kepastian; partikel ba seperti dalam kalimat ‘Zouba’. (‘Ayo pergi’ berfungsi untuk mengakhiri pembicaraan, penghalusan perintah, ajakan).
Dalam bahasa Batak Toba dikenal kategori fatis berbentuk partikel fatis ai, e, da, ma, dan ba dan kata fatis seperti horas dan santabi. Dari sisi distribusinya dalam tuturan, kategori fatis ini ada yang berada pada awal ujaran, pada awal dan tengah ujaran, dan pada awal dan akhir ujaran. Tentu saja unsur fatis tersebut memiliki fungsi masing-masing. Horas mempunyai makna ‘selamat’, ‘sejahtera’, sedangkan santabi bermakna ‘permisi’ atau ‘maaf’.

Terapkan teori Comrie, Vendler, Osten Dahl yang Sdr. pelajari di mata kuliah Sintaksis ini ketika mengajar mahasiswa/murid Sdr. Jelaskan pula perbedaannya dengan apa yang Sdr ajarkan selama ini.

Teori Comrie, Vendler dan Östen Dahl yang telah saya pelajari lewat perkuliahan Sintaksis jika dihubungkan dengan pengajaran selama ini dapat disimpulkan sebagai berikut.

Comrie, Vendler dan Dahl ketiganya menaruh perhatian yang mendalam tentang aktionsart. Comrie lebih menekankan pada Aspect dan Tense. Vendler lebih berfokus pada State, Activity, Accomplishment, Achievement. Dahl memberikan perhatiannya pada aspek perfektum dan imperfektum yaitu telik dan atelik.
Pada intinya, ketiga pakar tersebut mencoba memberi uraian menyeluruh tentang aplikasi aktionsart. Jika Comrie menyatakan bahwa suatu peristiwa bahasa khususnya lewat penggunaan verba kemudian akan dapat ditelusuri apakah peristiwa bahasa (state of affairs) tersebut terkait dengan aspek atau kala. Beliau memberikan tiga bagan terkait Time and Language yang ketiga bagan tersebut memiliki sebuah endpoint. Vendler mencoba mengurai aktionsart atas empat hal yakni state (keadaan atau kondisi), activity (kegiatan atau aktifitas), accomplishment (penyelesaian) dan achievement (pencapaian). Vendler melihat suatu verba juga dari sudut endpoint (titik acuan) sehingga dapat ditentukan suatu verba terjadi pada kala lampau atau kala sekarang. Dahl merinci aspek perfektum (telik) dan imperfektum (atelik).
Manfaat mempelajari teori dari ketiga pakar ini dalam pengajaran yang saya laksanakan sangatlah terasa. Jika pada pengajaran sebelumnya pembahasan mengenai aspek dan kala ini lebih berfokus pada penanda waktu saja (penanda waktu lampau misalnya ‘ago’, sekarang ‘now’, dan akan terjadi ‘will’) dan konjugasi (perubahan) verba misalnya verba ‘eat’ (makan) pada waktu sekarang menjadi ‘ate’ (‘makan’) yang merujuk pada waktu lampau.
Setelah mempelajari dan mencoba memahami pendapat dari Comrie, Vendler dan Östen Dahl maka secara tidak disadari berpengaruh dalam pengajaran bahasa khususnya bahasan tentang aspek dan kala. Bagan yang dicontohkan Comrie dapat diterapkan dan ditunjukkan kepada peserta didik suatu cara yang lebih mudah untuk memahami aspek dan kala. Dengan berpatokan pada endpoint (titik acuan) yang digambarkan dalam bentuk timeline (garis waktu), peserta didik dapat lebih mudah memahami bahasan terkait hal ini. Lalu ditambahkan dengan pemikiran dari Vendler tentang empat hal dalam aktionsart semakin mempermudah peserta didik untuk menangkap perbedaan antara aspek dan kala. Perfektum dan imperfektum dari Östen Dahl juga memainkan peranannya terlebih lagi saya mencoba menerangkan akan keterkaitan fokus dari bahasan dari ketiga pakar ini. Hal yang paling membahagiakan seorang pengajar adalah jika peserta didiknya dapat dengan lebih mudah memahami materi ajar. Banyak tanggapan positif dan salutasi dari peserta didik atas penerapan teori dari ketiga pakar tersebut. Demikianlah terjadi suatu perbedaan yang cukup hakiki dalam pengajaran terkait aspek dan kala yang tadinya membosankan bagi peserta didik, berganti menjadi menantang dan menarik sehingga lebih mudah memahaminya.

(Tulisan ini tidak untuk dikutip baik sebagian maupun keseluruhan isi tanpa ijin tertulis dari penulis. terima kasih)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar